Jumat, 03 Juni 2011

AGAMA ISLAM - IPTEK

TUGAS MAKALAH AGAMA ISLAM
PERKEMBANGAN IPTEK DAN SENI DALAM SUDUT PANDANG ISLAM


KELOMPOK 2 :
RIRIN RIZKIA (,,,,,,,)
META ANDRIYANI (5515100268)
METTA KUSUMA DEWI (5515101688)
SYARIFATUZ ZAHRA(........)
AHMAD ZAKI ADAM (5515100267)







FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN ILMU KESEJAHTERAAN KELUARGA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TATA BOGA S1 REGULER 2010
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA
2011



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper yang berjudul “Perkembangan Iptek Dan Seni Dalam Sudut Pandang Islam” ini dengan baik.

Penulisan paper ini bertujuan agar dapat mengetahui mengenai peranan islam dalam perkembangan iptek dan seni serta sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk mengikuti ujian.

Kemudian penulis juga menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai ‘pihak yang telah membantu baik secara moril maupun materil, penulis tidak akan mampu menyesaikan paper ini dengan baik. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Kedua orang tua penulis yang telah banyak membantu baik moril maupun materil.
2.      Dra. Harnida selaku dosen mata kuliah Agama Islam.
3.      Teman – teman penulis yang tidak bias penulis sebutkan nama nya satu per satu.
Akhir kata penulis berharap agar paper ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang memerlukan dan bagi siapa saja yang membacanya.




                                                                                                Jakarta, 22 April 2011

      


    Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1              LATAR  BELAKANG
Seiring dengan perkembangan zaman, IPTEK dan seni dalam peradaban manusia berkembang sangat pesat. Dimana teknologi yang muncul saat ini merupakan hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah. Islam sebagai agama yang paripurna dan universal tidak hanya menitik beratkan kepada persoalan yang bersifat ukhrawisaja, akan tetapi islam juga memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni bagi kehidupan umat manusia.

Pada dasarnya kita hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT. Ada banyak cara untuk beribadah kepada Allah SWT seperti sholat, puasa, dan menuntut ilmu. Menuntut ilmu ini hukumnya wajib. Seperti sabda Rasulullah SAW: “menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban atas setiap muslim laki-laki dan perempuan”. Ilmu adalah kehidupanya islam dan kehidupanya keimanan. Dengan mengembangkan IPTEK alam dan isinya yang dianugrahkan oleh Allah dapat membawa manfaat yang besar bagi kehidupan manusia itu sendiri. Sedangkan melalui seni manusia dapat menjaga kelestarian alam, agar selalu tetap dalm fitrahnya sebgai alam dan mencegah ketidakseimbangan yang mungkin akan terjadi sebagai akibat dari pengembangan IPTEK. Untuk itulah, islam tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni , dengan masalah – masalah peribadatan lainnya.

Oleh sebab itu, maka didalam al- Qur’an tidak hanya memuat ayat – ayat yang mengatur masalah ubudiyah saja, tetapi juga banyak terdapat ayat – ayat yang berkenaan dengan IPTEK dan seni. Seperti yang telah tercantum dalam beberapa surah yakni surah Al Anbiya ayat 33 yang menjelaskan mengenai orbit, surah yasin ayat 38 mengenai perjalanan matahari, surah Ath-Thalaq ayat 12 yang menjelaskan mengenai lapisan atmosfer.
Selain itu dalam al- Alaqayat 1 Allah berfirman “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu  yang menciptakan” Dalam ayat ini berarti manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Akan tetapi segala pemikiran tidak boleh terlepas dari aqidah islam, karena iqra haruslah dengan bismirabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asasaqidah islam.

1.2       PERMASALAHAN
Dengan melihat beberapa latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apakah pengertian iptek dan seni serta apa kaitannya dengan islam?
2. Bagaimanakah cara mengembangkan IPTEK dan seni yang sesuai dengan aqidah islam?
3. Apa sajakah keutamaan mencari ilmu?
4. Seberapa besarkah tanggung jawab ilmuwan terhadap alam?
1.3       TUJUAN
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan bagi pembaca tentang iptek dalam paradigma islam dan juga sebagai pelengkap tugas mata kuliah Materi PAI.

1.4       METODE PENULISAN
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, maka penulis menggunakan metode studi kepustakaan. Pada metode ini,  penulis membaca buku – buku dan literature yang berhubungan dengan iptek dan seni, khusus nya mengenai iptek dan seni dalam pandangan islam sebagai sumber informasi dalam penyusunan makalah ini.

B. Konsep IPTEKS dalam islam
1. Definisi IPTEKS
Istilah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sering diterjemahkan menjadi science and technology. Namun sesungguhnya menurut filsafat ilmu, ilmu dan pengetahuan memiliki makna yang berbeda. Pengetahuan (knowledge), adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tahapan panca indera, intuisi, dan firasat. Sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasikan, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasi, sehingga menghasilkan kebenaran objektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah (Webter’s dictionary science. Sedangkan ilmu, yang memiliki akar kata yang sama dengan alam, dalam berbagai bentuknya disebut sebanyak 854 kali dalam al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan sehingga memperoleh kejelasan.

Berdasarkan definisi tersebut, menurut pengertian barat, ilmu dilahirkan melalui riset yang dilakukan manusia, melewati serangkaian proses dan tahapan dalam penelitian yang akhirnya melahirkan konsep-konsep, teori-teori, dan penjelasan-penjelasan yang disebut ilmu (science). Oleh karena itu, ilmu di barat tergantung pada fakta-fakta empiris (naturalis). Ia sama sekali menafikan campur tangan Allah, karena menganggap ilmu adalah ciptaan manusia sendiri.

Adapun menurut pandangan dunia timur (arab) yang dalam hal ini diwakili Al-Ghazali, ilmu didefinisikan sebagai cahaya dalam hati (Al-ilmu nurun fi qalbi). Definisi ini sebenarnya berdasar pada pandangan idealisme plato tentang logas besar dan logas kecil. Secara sederhana plato mengatakan bahwa yang benar itu ada dialam ide (logas besar) dan ilmu merupakan pancaran dari alam ide.

Berbeda dengan definisi ilmu menurut barat, al-Qur’an dalam surat Ar-Rahman 1-13 mendefinisikan ilmu sebagai rangkaian keterangan teratur dari Allah menurut sunnah Rasul yang menerangkan semesta kehidupan yang tergantung kepada Allah.
Dalam kajian filsafat, setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian. Seseorang yang memperdalam ilmu tertentu disebut spesialis, sedangkan orang yang tahu banyak tetapi tidak mendalam disebut generalis. Dalam sejarah islam tercatat banyak sekali ilmuan muslim yang ahli dalam berbagai bidang kajian ilmu. Beberapa diantaranya adalah Ibnu Rusyd,Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Khwarizmi,dan lain-lain, adalah sosok yang selain seorang filsuf, mereka juga ahli kedokteran, astronomi,matematika,fisika dan sebagainya.

Teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan. Ia menjadi bagian dari kebudayaan dan peradaban (culture of civilization). Menurut seorang ilmuwan jerman, P.J. Bouman, teknologi berarti peradaban, yang merupakan endapan dari kebudayaan dalam bentuk lahir perilaku manusia dan dalam alat-alat organisasi teknik yang memungkinkan kelangsungan hidup mereka.

Sementara menurut John Naisbit dalam bukunya high tech high touch 2001, yang mengutip dari Random house dictionary, teknologi didefinisikan sebagai benda, objek, dan bukan dari wujud yang jelas-jelas berbeda dengan manusia. Dalam kamus tersebut juga disebutkan bahwa teknologi erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.

Teknologi yang pada dasarnya memiliki karakteristik objektif dan netral, juga mempunyai potensi untuk merusak dan menghancurkan lingkungan. Oleh karena itu jika teknologi diimbangi dengan ilmu, maka ia sesungguhnya merupakan aktivitas atau produk dari iman, yaitu hasil dari amaliyah bin arkan. Dalam perspektif al-Qur’an, teknologi dilahirkan tidak sebagai ambisi pribadi atau kelompok, namun dilahirkan karena adanya kesadaran untuk melahirkannya.

Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Ia merupakan ekspresi jiwa seseorang, yang kemudian berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan keindahan, sedangkan keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran. Keduanya memiliki nilai yang sama yaitu keabadian.
2. Syarat-syarat Ilmu
Dari sudut pandang filsafat, ilmu lebih khusus daripada pengetahuan. Suatu pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu apabila memenuhi tiga unsur pokok, yaitu:
  1. Ontologi, suatu bidang studi harus memiliki objek studi yang jelas. Objek studi sebuah ilmu ada dua, material dan formal.
  2. Aksiologi, suatu bidang studi memiliki nilai guna atau kemanfaatan
  3. Epistimologi,suatu bidang studi memiliki metode kerja yang jelas.

Ilmu pengetahuan atau sains., istilah tersebut dapat didefinisikan sebagai himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengkajian dan dapat diterima oleh rasio atau dapat dinalar.

Dalam pemikiran sekuler, sains mempunyai tiga karakteristik, yaitu objektif, netral dan bebas nilai. Sedangkan dalam pemikiran islam, sains tidak boleh bebas dari nilai-nilai, baik nilai local maupun nilai universal. Ia harus dikembangkan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kebahagiaan umat manusia dan kelestarian ekologis untuk tujuan rahmatan lil ‘alamin (Q.S. al-anbiya 107).

3. Sumber Ilmu Pengetahuan
Dalam pemikiran islam ada dua sumber ilmu, yaitu wahyu dan akal. Keduanya saling menguatkan dan tidak boleh dipertentangkan. Islam sendiri menegaskan bahwa, Ad-dinu huwa al-‘aql, wa laa diina liman laa ‘aqla lahu ( agama adalah akal dan tidak ada agama bagi yang tidak berakal). Kitab suci al-Qur’an juga tidak semata-mata memberi perintah, tapi mendorong manusia untuk senantiasa berfikir dan mempergunakan akalnya.

Atas dasar ini, ilmu dalam pemikiran islam ada yang bersifat abadi (perennial knowledge) dan tingkat kebenarannya bersifat mutlak (absolut), karena bersumber dari wahyu Allah. Disamping itu ilmu juga ada yang bersifat perolehan (acquired knowledge) dan tingkat kebenarannya bersifat nisbi (relatif), karena bersumber dari akal pikiran manusia.
Dalam perspektif islam, IPTEK dan seni merupakan hasil pengembangan potensi manusia yang diberikan Allah berupa akal dan budi. Prestasi yang gemilang dalam pengembangan IPTEK dan seni, pada hakekatnya tidak lebih sekedar menemukan bagaimana proses sunnatullah terjadi di alam semesta dan bukan merancang atau menciptakan hokum baru diluar

C. Integrasi Iman, Ilmu, Amal, dan IPTEKS
            Dalam perspektif Islam, antara iman, ilmu, amal, iptek, dan seni tidak bisa dipisahkan dan terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi kedalam suatu system yang disebut Dinul Islam. Didalam nya terkandung tiga unsur pokok, yaitu Aqidah, Syariah, dan Akhlak atau dengan kata lain Iman, Ilmu, dan Amal Shalih.

Dalam Al-Qur’an 14:24-25 digambarkan, bahwa :
Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (Dinul Islam) seperti sebatang pohon yang baik, akarnya kokoh (menghujam kebumi) dan cabang nya menjulang ke langit. Pohon itu mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat (Q.S 14:24-25)

Ayat diatas adalah gambaran keutuhan antara iman, ilmu, dan amal, atau antara aqidah, syariah, dan akhlak. Iman diidentikan dengan akar dari sebuah pohon yang menopang tegaknya ajaran Islam. Ilmu diibaratkan sebagai batang pohon yang mengeluarkan cabang-cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon. IPTEK yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan takwa akan selalu menghasilkan amal shalih, bukan kerusakan alam.

Tauhid sebagai kunci pokok dalam Islam, tidak mengakui adanya pemisahan antara iman dan sains. Islam juga tidak membuat pemisahan yang ketat antara bermacam-macam ilmu dengan seni dan keimanan. Itulah sebabnya mengapa dunia Islam dalam sejarah nya memiliki banyak ilmuan jenius dan ensiklopedik (meliputi bermacam-macam ilmu) diantaranya Al-Kindi (805-873M), Ibnu Sina (w.1037M), Al-Khwarizmi (w.830M), Umar Khayam (1048-1131M), Ibnu Rusyd (1126-1198M), Al-Razi (865-935M), Al-Battani (858-929M), dan masih banyak lagi ilmuan muslim, merupakan pencipta-pencipta ilmu kedokteran, yang juga ahli matematika, geografi, astronomi, filsafat, theology an seni syair. Karya-karya mereka bahkan menjadi rujukan utama dalam pengembangan IPTEK didunia Barat hingga saat ini.

Dalam bidang seni, dunia Islam juga pernah menorehkan prestasi gemilang dengan menampilkan karya-karya seni yang benilai estetik tinggi. Dibidang arsitektur, monument arsitektur islam terindah adalah Kubah Sulaiman di Yerusalem yang didirikan pada masa khalifah Dinasti Umayyah yang didekorasi dengan tulisan kaligrafi yang sangat indah.

Pengembangan IPTEK dan seni yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tak akan bernilai ibadah, juga tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia  dan alam lingkungan.

D. Keutamaan Orang Berilmu
Manusia adalah satu-satunya makhluk Allah yang diberi anugerah akal oleh Allah. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah jika manuisa berkewajiban untuk menggunakan dan mengoptimalkan potensi dengan sebaik-baiknya. Al Qur’an dan Hadist banyak memberi motivasi kepada kita untuk selalu menggunakan akal fikiran dalam mempelajari fenomena alam.

Al Qur’an bahkan membedakan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu (QS 39 : 9). Demikian juga Al Qur’an menegaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu apabila orang tersebut beriman. (QS. 58 : 11).

Disamping itu, Rasulullah SAW banyak memberikan perumpamaan tentang keutamaan orang yang berilmu dengan sabdanya, bahwa : Mereka adalah pewaris para nabi, pada hari kiamat darah mereka ditimbang dengan darah syuhada, dan darah orang yang berilmu dilebihkan dari darah syuhada.

Nabi juga menyarankan umatnya untuk tidak berhenti mencari ilmu kapan dan dimanapun mereka berada.

Bagi orang berilmu, yang melandaskan keilmuannya dengan keimanan, pengembangan, dan pemanfaatan IPTEK  dan seni tidaklah ditunjukkansebagai tuntutan hidup semata, tetapi juga merupakan refleksi dari ibadah kepada Allah. Ia menjadi sarana peningkatan rasa syukur dan ketakwaan kepada Allah. Oleh karena itu, hasil-hasil kemajuan IPTEK akan dikembangkan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk tujuan Rahmatan Lil Alamin. (QS. 21 : 107).

E. Tanggung Jawab Ilmuwan terhadap Alam dan Lingkungan
            Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekarang ini, tidak bias dipungkiri, banyak menghantarkan manusia kepada kemudahan, efektivitas, dan efisiensi hidup. Dengan IPTEK manusia telah mampu meraih apa yang dulu dianggap sebagai sesuatu yang mustahil.
           
Namun di sisi lain, kemajuan IPTEK juga membawa ekses negatif dan destruktif yang merugikan dan mengancam keberlangsungan umat manusia dan alam lingkungan.  Proses dehumanisasi dan terancamnya keseimbangan ekologis dan kelestarian alam, merupakan imbas negatif dari kemajuan IPTEK.
           
Untuk itu, seorang ilmuwan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam dari kelompok-kelompok perusak, yang dalam Al Qur’an digambarkan dengan istilah Ya’juj dan Ma’juj (al-Kahfi 95). Ilmuwan harus mempunyai tanggung jawab, Karena diberi  amanah Allah untuk berbuat baik terhadap lingkungannya (al-Ahzab 72).
            Oleh karena itu, ilmuwan tidak cukup hanya dengan ilmunya saja, tetapi harus dibekali dengan iman dan takwa. Dengan begitu hasil-hasil kemajuan IPTEK akan dijadikan sebagai sarana bagi manusia untuk mengeksiskan dirinya sebagai khalifah di bumi, disamping sebagai ‘abdun, hamba Allah. Ilmuwan yang beriman dan bertakwa akan memanfaatkan kemajuan IPTEK untuk menjaga, memelihara, dan melestarikan kelangsungan hidup manusia dan keseimbangan ekologi dan bukan untuk fasad fil ardhi.


KESIMPULAN
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) diuraikan dari kata Ilmu yang berarti sesuatu yang dilahirkan melalui riset yang dilakukan manusia mengenai segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini. Pengetahuan yang artinya segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tahapan panca indra, intuisi, dan firasat. Sedangkan Teknologi merupakan produk dari ilmu pengetahuan  yang menjadi bagian dari kebudayaan dan peradaban.
Ilmu pengetahuan memiliki tiga karakteristik yaitu objektif, netral, dan bebas nilai dalam pemikiran sekuler, sedangkan dalam pemikiran Islam ilmu pengetahuan tidak boleh bebas dari nilai-nilai, baik nilai local maupun nilai universal.
Bagi orang yang berilmu, yang melandaskan keilmuannya dengan keimanan, pengembangan, dan pemanfaatan Iptek dan Seni tidaklah ditunjukan sebagai tuntutan hidup semata, tetapi juga merupakan refleksi dari ibadah kepada Allah. Oleh karena itu, ilmuan tidak cukup hanya dengan ilmu nya saja, tetapi harus dibekali dengan Iman dan Takwa. Dengan begitu hasil-hasil kemajuan Iptek akan dijadikan sarana bagi manusia untuk mengeksiskan dirinya sebagai khalifah dibumi, disamping sebagai ‘abdun, hamba Allah. Perpaduan antara dua tugas ini, yaitu sebagai abdun dan khalifah akan mewujudkan manusia yang ideal yakni manusia yang selamat dunia akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar