Sabtu, 24 Maret 2012

karbohidrat


Karbohidrat merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen dan oksigen. Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah penghasil energi di dalam tubuh. Tiap 1 gram karbohidrat yang dikonsumsi akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal dan energi hasil proses oksidasi (pembakaran) karbohidrat ini kemudian akan digunakan oleh tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi-fungsinya sepert I bernafas, kontraksi jantung dan otot serta juga untuk menjalankan berbagai akivitasfisik seperti berolahraga atau bekerja.
Di dalam ilmu gizi, secarasederhana karbohidrat dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu karbohidrat sederhana & karbohidrat kompleks dan berdasarkan responnya terhadap glukosa darah di dalam tubuh, karbohidrat juga dapat dibedakan berdasarkan nilai tetapan indeks glicemik-nya (glycemic index).
Contoh dari karbohidrat sederhana adalah monosakarida seperti glukosa, fruktosa & galaktosa atau juga disakarida seperti sukrosa & laktosa. Jenisjenis karbohidrat sederhana ini dapat ditemui terkandung di dalam produk pangan seperti madu, buah-buahan dan susu.Sedangkan contoh dari karbohidrat kompleks adalah pati (starch), glikogen (simpanan energi di dalam tubuh), selulosa, serat (fiber) atau dalam konsumsi sehari-hari karbohidrat kompleks dapat ditemui terkandung di dalam produk pangan seperti, nasi, kentang, jagung, singkong, ubi, pasta, roti dsb.
Di dalam sistem pencernaan dan juga usus halus, semua jenis karbohidrat yang dikonsumsi akan terkonversi menjadi glukosa untuk kemudian diabsorpsi oleh aliran darah dan ditempatkan ke berbagai organ dan jaringan tubuh. Molekul glukosa hasil konversi berbagai macam jenis karbohidrat inilah yang kemudian akan berfungsi sebagai dasar bagi pembentukan energi di dalam tubuh.
Melalui berbagai tahapan dalam proses metabolisme, sel-sel yang terdapat di dalam tubuh dapat mengoksidasi glukosa menjadi CO & H O 2 2 dimana proses ini juga akan disertai dengan produksi energi. Proses metabolism glukosa yang terjadi di dalam tubuh ini akan memberikan kontribusi hampir lebih dari 50% bagi ketersediaan energi. Di dalam tubuh, karbohidrat yang telah terkonversi menjadi glukosa tidak hanya akan berfungsi sebagai sumber energi utama
KARBOHIDRAT


Karbohidrat atau Hidrat Arang adalah suatu zat gizi yang fungsi utamanya sebagai penghasil enersi, dimana setiap gramnya menghasilkan 4 kalori. Walaupun lemak menghasilkan enersi lebih besar, namun karbohidrat lebih banyak di konsumsi sehari-hari sebagai bahan makanan pokok, terutama pada negara sedang berkembang. Karbohidrat banyak ditemukan pada serealia (beras, gandum, jagung, kentang dan sebagainya), serta pada biji-bijian yang tersebar luas di alam.
Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan sumber energi utama bagi manusia dan hewan yang harganya relatif murah. Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-tumbuhan. Melalui pross fotosintesis, klorofil tanaman dengan bantuan sinar matahari mampu membentuk karbohidrat dari karbondioksida (CO2) berasal dari udara dan air (H2O) dari tanah. Karbohidrat yang dihasilkan adalah karbohidrat sederhana glukosa. Disamping itu dihasilkan oksigen (O2) yang lepas di udara.
sinar matahari
6 CO2 + 6H2O                                           C6H12O6 + 6 O2
                                  klorofil                karbohidrat

Produk yang dihasilkan terutama dalam bentuk gula sederhana yang mudah larut dalam air dan mudah diangkut keseluruh sel-sel guna penyediaan energi. Sebagian dari gula sederhana ini kemudian mengalami polimerisasi dan membentuk poli sakarida. Ada dua jenis polisakarida tumbuh-tumbuhan, yaitu pati dan nonpati. Pati adalah bentuk simpanan karbohidrat berupa polimer glukosa yang dihubungkan dengan ikatan glukosidik (ikatan antara gugus hidroksil atom C nomor 1 pada molekul glukosa dengan gugus hidroksil atom C nomer 4 pada molekul glukosa lain dengan melepas 1 mol air). Polisakarida nonpati membentuk struktur dinding sel yang tidak larut dalam air. Struktur polisakarida nonpati mirip pati, tapi tidak mengandung ikatan glikosidik. Serealia, seperti beras, gandum, dan jagung serta umbi umbian merupakan sumber pati utama di dunia. Polisakarida nonpati merupakan komponen utama serat makanan.
Di negara-negara sedang berkembang kurang lebih 80% energi makanan berasal dari karbohidrat. Meurut Neraca Bahan Makanan 1990 yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik, di Indonesia energi berasal dari karbohidrat merupakan 72% jumlah energi rata-rata sehari yang dikonsumsi oleh penduduk. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat, angka ini lebih rendah yaitu rata-rata 50%. Nilai energi karbohidrat adalah 4kkal per gram.

Definisi
Secara umum definisi karbohidrat adalah senyawa organik yang mengandung atom Karbon, Hidrogen dan Oksigen, dan pada umumnya unsur Hidrogen clan oksigen dalam komposisi menghasilkan H2O. Di dalam tubuh karbohidrat dapat dibentuk dari beberapa asam amino dan sebagian dari gliserol lemak. Akan tetapi sebagian besar karbohidrat diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari, terutama sumber bahan makan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Sumber karbohidrat nabati dalam glikogen bentuk glikogen, hanya dijumpai pada otot dan hati dan karbohidrat dalam bentuk laktosa hanya dijumpai di dalam susu. Pada tumbuh-tumbuhan, karbohidrat di bentuk dari basil reaksi CO2 dan H2O melalui proses foto sintese di dalam sel-sel tumbuh-tumbuhan yang mengandung hijau daun (klorofil). Matahari merupakan sumber dari seluruh kehidupan, tanpa matahari tanda-tanda dari kehidupan tidak akan dijumpai

Susunan Kimia
Semua jenis karbohidrat terdiri atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Perbandingan antara hidrogen dan oksigen pada umunya adalah 2 : 1 seperti halnya dalam air; oleh karna itu diberi nama karbohidrat. Dalam bentuk sederhana, formula umum karbohidrat adalah CnH2nOn. Hanya heksosa (6-atom karbon), serta pentosa (5-atom karbon), dan polimernya memegang peranan penting dalam ilmu gizi.

Klasifikasi
Karbohidrat yang penting dalam ilmu gizi dibagi dalam dua golongan, yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. Sesungguhnya semua jenis karbohidrat terdiri atas karbohidrat sederhana atau gula sederhana; karbohidrat kompleks mempunyai lebih dari dua unit gue la sederhana didalam satu molekul.
Penggolongan karbohidrat yang paling sering dipakai dalam ilmu gizi berdasarkan jumlah molekulnya.
1. Monosakarida
Heksosa (mengandung 6 buah karbon)
-Glukosa
-Fruktosa
-Galaktosa
Pentosa (mengandung 5 buah karbon)
-Ribosa
-Arabinosa
-Xylosa
2. Disakarida
-Sukrosa
-Maltosa
-Laktosa
3. Polisakarida
-Amilum
-Dekstrin
-Glikogen




Karbohidrat Sederhana
Karbohidrat sederhana terdiri atas:
1)      monosakarida yang terdiri atas jumlah atom C yang sama dengan molekul air, yaitu [C6(H2O)6] dan [C5(H2O)5];
2)      disakarida yang terdiri atas ikatan 2 monosakarida dimana untuk tiap 12 atom C ada 11 molekul air [C12(H2O)11];
3)      gula alkohol merupakan betuk alkohol dari monosakarida;
4)      oligosakarida adalah gula rantai pendek yang dibentuk oleh galaktosa, glukosa, dan fruktosa.

Monosakarida
Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena terdiri dari atas 6 rantai atau cincin karbon. Atom-atom hidrogen dan oksigen terikat pada rantai atau cincin ini secara terpisah atau sebagai gugus hidroksil (OH). Ada tiga jenis heksosa yang penting dalam ilmu gizi, yaitu glokosa, fruktosa dan galaktosa. Ketiga macam monosakarida ini mengandung jenis dan jumlah atom sama, yaitu 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Perbedaannya hanya terletak pada cara penyusunan atom-atom hidrogen dan oksigen disekitar atom-atom karbon. Perbedaan dalam susunan atom inilah yang menyebabkan perbedaan dalam tingkat kemanisan, daya larut, dan sifat lain ketiga monosakarida tersebut. Monosakarida yang terdapat di alam pada umunya terdapat dalam bentuk isomer dekstro (D).Gugus hidroksil pada karbon nomor 2  terletak disebelah kiri. Struktur kimianya dapat berupa struktur terbuka atau struktur cincin (Gambar 3.1). Jenis heksosa lain yang kurang penting dalam ilmu gizi adalah manosa. Monosakarida yang mempunyai lima atom karbon disebut pentosa, seperti ribosa, xilpsa, dan arabinosa.





Struktur terbuka
Struktur cincin
Gambar 3.1 Struktur kimia monosakarida


Glukosa, dimnamakan juga dekstrosa atau gula anggur, terdapat luas di alam dalam jumlah sedikit, yaitu didalam sayur, buah, sirup jagung, sari pohon, dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Tubuh hanya da[at menggunakan glukosa dalam bentuk D. Glukosa murni yang ada di pasar biasanya diperoleh dari hasil olahan pati. Glukosa memegang peranan penting dalam ilbu gizi. Glukosa merupakan hasil akhir pencernaan pati, sukrosa, maltosa dan laktosa pada hewan dan manusia. Dalam proses metabolisme, glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang beredar didalam tubuh dan di dalam sel merupakan sel sumber energi. Dalam keadaan normal sistem saraf pusat hanya dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Glukosa dalam bentuk bebas hanya terdapat dalam jumlah terbatas dalam bahan makanan. Glukosa dapat dimanfaatkan untuk diet tinggi energi. Tingkat kemanisan glukosa hanya separuh dari sukrosa, sehingga dapat digunakan lebih banyak untuk tinhkat kemanisan yang sama.
Fruktosa, dinamakan juga levulosa atau gula buah, adalah gula paling manis. Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa C6H12O6, namun strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosa merangsang jonjot kecapan pada lidah sehingga menimbulkan rasa manis. Gula ini terutama terdapat dalam madu bersama glukosa, dalam buah, nekta bunga, dan juga didalam sayur. Sepertiga dari gula madu terdiri atas fruktosa. Fruktosa dapat di olah dari pati dan digunakan secara komersial sebagai pemanis. Didalam tubuh, fruktosa merupakan hasil pencernaan sakarosa.
Galaktosa, tidak terdapat bebas di alam seperti halnya glukosa dan fruktosa, akan tetapi terdapat dalam tubuh sebagai hasil pencernaan laktosa.
Manosa, jaang terdapat di dalam makanan. di Gurun pasir, seperti di israel terdapat di dalam manna yang mereka olah untuk membuat roti.
Pentosa, merupakan bagian sel-sel semua bahan makanan alami. Jumlahnya sangat kecil, sehingga tidak penting sebagai sumber energi. Ribosa dan deoksiribosa merupakan bagian asam nukleat dalam inti sel. Karena dapat di sintesis dari semua hewan, rebosa dan deoksiribosa tidak merupakan zat gizi esensial.
Disakarida

Ada empat jenis disakarida, yaitu sukrosa atau sakarosa, maltosa, laktosa, dan trehalosa. Trehalosa tidak begitu penting dalam ilmu gizi, oleh karna itu akan dibahas secara terbatas. Disakarida terdiri atas dua monosakarida yang terikat satu sama lain melalui reaksi kondensasi. Kedua monosakarida saling mengikat berupa ikatan glikosidik melalui satu atom oksigen (O). Ikatan glukosidik ini biasanya antara atom C nomer 1 dengan atom C nomer 4 dan membentuk ikatan alfa, dengan melepaskan 1 molekul air. Hanya karbohidrat yang unit monosakaridanya terikat dalam bentuk alfa yang dapat di cernakan. Disakarida dapat dipecah kembali menjadi dua molekul monosakarida melalui reaksi hidrolisis. Glukosa terdapat pada ke empat jenis disakarida; monosakarida lainnya adalah fruktosa dan galaktosa (Gambar 3.2).
Gamnbar 3.2 Struktur kimia maltosa, sukrosa, dan laktosa

Sukrosa atau sakarosa dinamakan juga gula tebu atau gula bit. Secara komersial gula pasir hanya 99% terdiri atas sukrosa dibuat dari kedua macam bahan makanan tersebut melalui proses penyulingan dan kristalisasi. Gula merah yang banyak digunakan di Indonesia di buat dari tebu, kelapa atau enau melalui proses penyulingan tidak sempurna. Sukrosa juga terdapat didalam buah, sayuran, dan madu. Bila dicernakan atau dihidrolisis, sukrosa pecah menjadi satu unit glukosa dan satu unit fruktosa, yang di sebut gula invert. Gula invert cesara alami terdapat di dalam madu dan rasanya lebih manis dari sukrosa.
Sukrosa adalah yang kita pergunakan sehari-hari, sehingga lebih sering disebut gula meja (table sugar) atau gula pasir dan disebut juga gula invert. Mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida yang terdiri dari satu molekul glukosa dan satu molekul fruktosa.
Sumber: tebu (100% mengandung sukrosa), bit, gula nira (50%), jam, jelly.
Maltosa (gula malt) tidak terdapat bebas di alam. Maltosa terbentuk pada setiap pemecahan pati, seperti yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan bila benih atau bijian berkecambah dan didalam usus manusia pada pencernaan pati. Dalam proses berkecambah pati yang terdapat dalam padi-padian pecah menjadi maltosa, untuk kemudian di uraikan menjadi unit-unit glukosa tunggal sebagai makanan benih yang sedang tumbuh. Produksi bir terjadi bila maltosa di fermentasi menjadi alkohol. Bila dicernakan atau dihidrolisis, maltosa pecah menjadi dua unit glukosa.
Mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida yang terdiri dari dua molekul glukosa. Di dalam tubuh maltosa didapat dari hasil pemecahan amilum, lebih mudah dicema dan rasanya lebih enak dan nikmat. Dengan Jodium amilum akan berubah menjadi warna biru.
Amilum terdiri dari 2 fraksi (dapat dipisah kan dengan air panas):
1. Amilosa
-larut dengan air panas
-mempunyai struktur rantai lurus
2. Amilopektin
-tidak larut dengan air panas
-mempunyai sruktur rantai bercabang
Peranan perbandingan amilosa dan amilo pektin terlihat pada serelia; Contohnya beras, semakin kecil kandungan amilosa atau semakin tinggi kandungan amilopektinnya, semakin lekat nasi tersebut.
Pulut sedikit sekali amilosanya (1-2%), beras mengandung amilosa > 2%
Berdasarkan kandungan amilosanya, beras (nasi) dapat dibagi menjadi 4 golongan:
-amilosa tinggi 25-33%
-amilosa menengah 20-25%
-amilosa rendah 09-20%
-amilosa sangat rendah < 9%
Secara umum penduduk di negara-negara Asean, khususnya Flipina, Malaysia, Thailand dan Indonesia menyenangi nasi dengan kandungan amilosa medium, sedangkan Jepang dan Korea menyenangi nasi dengan amilosa rendah.

Laktosa (gula susu) hanya terdapat didalam susu dan hanya terdiri dari satu unit glukosa dan satu unit galaktosa. Kadar laktosa pada susu sapi adalah 6,8 gram per 100 ml, sedangkan pada air susu ibu (ASI) 4,8 gram per 100 ml. banyak orang, terutama yang berkulit berwarna (termasuk orang Indonesia) tidak tahan terhadap susu sapi, karena kekurangan enzim laktase yang di bentuk di dalam dinding usus dan diperlukan untuk pemecahan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Kekurangan laktase ini menyebabkan ketidaktahanan terhadap laktosa. Laktosa yang tidak dicerna tidak dapat diserap dan tetap tinggal dalam saluran pencernaan. Hal ini mempengaruhi jenis mikroorganisme yang tumbuh, yang menyebabkan gejala kembung, kejang perut, dan diare. Ketidaktahanan terhadap laktosa lebih banyak terjadi pada orangtua. Laktosa adalah gula yang rasanya paling tidak manis (seperenam manis glukosa) dan lebih sukar larut daripada disakarida lain.
Laktosa Mempunyai 2 (dua) molekul monosakarida yang terdiri dari satu molekul glukosa dan satu molekul galaktosa. Laktosa kurang larut di dalam air.
Sumber : hanya terdapat pada susu sehingga disebut juga gula susu. -susu sapi 4-5%
-asi 4-7%
Laktosa dapat menimbulkan intolerance (laktosa intolerance) disebabkan kekurangan enzim laktase sehingga kemampuan untuk mencema laktosa berkurang. Kelainan ini dapat dijumpai pada bayi, anak dan orang dewasa, baik untuk sementara maupun secara menetap. Gejala yang sering dijumpai adalah diare, gembung, flatus dan kejang perut. Defisiensi laktase pada bayi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, karena bayi sering diare. Terapi diit dengan pemberian formula rendah laktosa seperti LLM, Almiron, Isomil, Prosobee dan Nutramigen, dan AI 110 bebas Laktosa. Formula rendah laktosa tidak boleh diberikan terlalu lama (maksimum tiga bulan), karena laktosa diperlukan untuk pertumbu ban sel-sel otak. Setelah tiga bulan, laktosa diberikan secara bertahap sesuai dengan pertumbuhan anak.

Trehalosa seperti juga maltosa, terdiri atas dua mol glukosa dan dikenal sebagai gula jamur. Sebanyak 15% bagian kering jamur terdiri atas trehalosa. Trehalosa juga terdapat dalam serangga.

Gula Alkohol

Gula alkohol terdapat di dalam alam dan terdapat pula dibuat secara sintesis. Ada emapt jenis gula alkohol yaitu sorbitol, manitol, dulsitol, dan inositol.
Sorbitol terdapat didalam beberapa jenis buah dan secara komersial dibuat dari glukosa. Enzim aldosa reduktase dapat mengubah gugus aldehida (CHO) dalam glukosa menjadi alkohol (CH2OH). Struktur kimianya dapat dilihat jelas pada gambar 3.3.
Sorbitol banyak digunakan dalam minuman dan makanan khusus pasien diabetes, seperti minuman ringan, selai, dan kue-kue. Tingkat kemanisa sorbitol hanya 60% bila dibandingkan dengan sukrosa, diabsorpsi lebih lambat dan diubah di dalam hati menjadi glukosa. Pengaruhnya terhadap kadar gula darah lebih kecil daripada sukrosa. Konsumsi lebih dari 50 gram sehari dapat menyebabkan diare pada pasien diabetes. Sobitol tidak mudah dimetabolisme oleh bakteri dalam mulut sehingga tidak mudah menimbulkan karies gigi. Oleh karna itu, Sorbitol banyak digunakan dalam pembuatan permen karet.
Manitol dan dulsitol adalah alkohol yang dibuat dari monosakarida manosa dan galaktosa. Manitol terdapat di dalam nanas, asparagus, ubi jalar, dan wortel. secara komersial manitol diekstraksikan dari sejenis rumput laut. Kedua jenis alkohol ini banyak digunakan dalam industri pangan.
Inositol merupakan alkohol siklis yang menyerupai glukosa. Inositol terdapat dalam banyak bahan makanan, terutama dalam sekam serealia. Bentuk esternya dengan asam fitat menghambat absorpsi kalsium dan zat besi dalam usus halus.
Gambar 3.3 Struktur kimia  surbitol dan manitol

Ologosakarida

Oligosakarida terdiri atas polimer dua hingga sepuluh monosakarida (oligo berarti sedikit). Sebetulnya disakarida termasuk dalam oligosakarida, tetapi karna peranannya dalam ilmu gizi sangat penting maka dibahas secara terpisah.
Rafinosa, stakiosa dan verbaskosa adalah oligosakarida yang terdiri atas unit-unit glukosa, fruktosa dan galaktosa. Ketiga jenis oligosakarida ini terdapat di dalam biji tumbuh-tumbuhan dan kacang-kacangan serta tidak dapat dipecah oleh enzim-enzim pencernaan. Seperti halnya polisakarida nonpati, oligosakarida ini di dalam usus besar mengalami fermentasi.
Fruktan adalah sekelompok oligo dan polisakarida yang terdiri atas beberapa unit fruktosa yang terikat dalam satu moleku glukosa. Panjang rantai bisa mencapai 3 hingga 50 unit, bergantung pada sumbernya. Fruktan terdapat didalam serealia, bawang merah, bawang putih dan asparagus. Fruktan tidak dicernakan secara berarti. Sebagian besar di dalam usus besar di fermentasi.

Karbohidrat kompleks
Karbohidrat kompleks terdiri atas:
1)      polisakarida yang terdiri atas lebih dari dua ikatan monosakarida.
2)      serat yang dinamakan juga polisakarida nonpati.

Polisakarida
Karbohidrat kompleks ini dapat mengandung samapi tiga ribu unit gula sederhana yang tersusun dalam bentuk rantai panjang lurus atau bercabang. Gula sedrhana ini terutama adalah glukosa. jenis polisakarida yang penting dalam ilmu gizi adalah pati, dekstrin, glikogen, dan polisakarida nonpati.
Pati merupakan simpanan karbohidrat dalam tumbuh-tumbuhan dan merupakan karbohidrat utama yang dimakan oleh manusia diseluruh dunia. pati terutama terdapat dalam padi-padian, biji-bijian dan umbi-umbian. Beras, jagung dan gandum mengandung 70-80% pati; kacang-kacang kering seperti kacang kedelai, kacang merah dan kacang hijau 30-60%, sedangkan ubi, talas, kentang dan singkong 20-30%.
Jumlah unit glukosa dan susunannya dalam satu jenis pati berbeda satu sama lain, bergantung tanaman jenis asalnya. Bentuk butiran pati ini berbeda satu sama lain dengan karakteristik tersendiri dalam hal daya larut, daya mengentalkan dan rasa. (lihat gambar 3.4). Amilosa merupakan rantai panjang unit glukosa yang tidar bercabang, sedangkan amilopektin polimer yang susunannya bercabang-cabang dengan 15-30 unit glukosa pada tiap cabang. Rantai glukosa terikat satu sama lain melalui ikatan alfa yang dapat dipecah dalam proses pencernaan.
Gambar 3.4 Molekul pati. molekul pati terdiri atas ribuan molekul glukosa yang terikat dalam bentuk rantai dan tidak bercabang atau bercabang.
Komposisi amilosa dan amilopektin berbeda dalam pati berbagai bahan makanan. Amilopektin pada umunya terdapat dalam jumlah lebih besar. Sebagian besar pati mengandung antara 15% dan 35% amilosa. Pada beras semakin kecil kandungan amilosa atau semakin tinggi kandungan amilopektinnya, semakin pulen (lekat) nasi yang diperoleh. Beras ketan hampir idak mengandung amilosa (1-2%). Dalam butiran pati, rantai-rantai amilosa dan amilopektin tersusun dalam bentuk semi kristal, yang menyebabkan tidak larut dalam air dan memperlambat pencernaannya ole amilase pankreas. Bila dipanaskan dengan air, struktur kristal rusak danrantai polisakarid akan mengambil posisi acak. Hal inilah yang menyebabkan mengembang dan memadat (gelatinisasi). Cabang-cabang dalam struktur amilopektinlah yang terutama menyebabkan dapat membentuk gel yang cukup stabil.  Proses pemasakan pati disamping menyebabkan pembentukan gel juga akan melunakkan dan memecah sel, sehingga memudahkan pencernaannnya. Dalam proses pencernaan semua bentuk pati dihidrolisis menjadi glukosa. Pada tahap pertengahan akan dihasilkan dekstrin dan maltosa.
Dekstrin merupakan produk antara pada pencernaan pati atau dibentuk melalui hidrolisis parsial pati. Dekstrin merupakan sumber utama karbohidrat dalam makanan lewat pipa (tube feeding). Cairan glukosa dalam hal ini merupakan campuran dekstrin, maltosa, glukosa dan air. Karena molekulnya lebih besar dari sukrosa dan glukosa, dekstrin mempunyai pengaruh osmolar lebihkecil sehingga tidak mudah menimbulkan diare. Pati yang dipanaskan secara kering (dibakar) seperti halnya pada proses membakar roti akan menghasilkan dekstrin. Molekul sakarida bila bertambah kecil, akan meningkatkan daya larut dan kemanisannya, oleh karna itu dekstrin lebih manis daripada pati dengan daya larut lebih tinggi dan lebih mudah dicernakan. Dekstrin maltosa, suatu produk hasil hidrolisis parsial pati, digunakan sebagai makanan bayi karena tidak mudah mengalami fermentasi dan mudah dicernakan.
Glikogen dinamakan juga pati hewan karena merupakan bentuuk simpanan karbohidrat didalam tubuh manusia dan hewan, yang terutama terdapat didalam hati dan otot. Glikogen terdiri atas unit-unit glukosa dalam bentuk rantai lebih bercabang daripada amilopektin (lihat gambar 3.5). Struktur yang lebih bercabang ini membuat glikogen lebih mudah dipecah. Tubuh mempunyai kapasitas terbatas untuk menyimpan glikogen, yaitu hanya sebanyak 350 gram. Dua pertiga dari bagian glikogen disimpan dalam otot dan selebihnya dalam hati. Glikogen dalam otot hanya dapat digunakan untuk keperluan energi didalam otot tersebut, sedangkan glikogen dalam hati dapat digunakan sebagai sumber energi untuk keperluan semua sel tubuh. Kelebihan glukosa melampaui kemampuannya dalam bentuk glikogen akan diubah menjadi lemak dan disimpan dalam jaringan lemak. Glikogen tidak merupakan sumber karbohidrat yang penting dalam bahan makanan, karena hanya terdapat didalam makanan berasal dari hewani dalam jumlah terbatas.

Polisakarida Nonpati/Serat

Serat akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian karena peranannya dalam mencegah berbagai macam penyakit. Definisi yang terakhir diberikan untuk serat makanan adalah polisakarida nonpati yang menyatakan polisakarida dinding sel. Ada dua golongan serat yaitu yang tidak dapat larut dan yang dapat larut dalam air. Serat yang tidak larut dalam air adalah selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Serat yang larut dalam air adalah pektin, gum, mukilase, glukan, dan algal.
Gambar 3.5 Molekul glikogen. Glikogen terdiri atas unit-unit glukosa dalam bentuk rantai lebih bercabang daripada amilopektin.

Selulosa, hemiselulosa, dan lignin merupakan rangka strukturan semua tumbuh-tumbuhan. Selulosa merupakan bagian utama dinding sel tumbuh-tumbuhan dinding atas  polimer linier panjang hingga 10.000 unit glukosa terikat dalam bentuk ikatan beta (1-4). polimer karbohidrat dalam bentuk ikatan beta tidak dapat dicernakan oleh enzim pencernaan manusia. Selulosa merupakan struktur kristal yang sangat stabil. Selulosa yang berasal dari makanan nabati akan melewati saluran cerna secara utuh. Selulosa melunakkan dan menjadi bentuk fese karna dapat menyerap air, sehingga mampu membantu gerakan peristaltik usus, dengan demikian membantu defekasi dan mencegah kostipasi. Hemiselulosa merupakan bagian utama serat serealia yang terdiri atas polimer bercabang heterogen heksosa, pentosa, dan asam uronat. Lignin terdiri atas  polimer karbohidrat yang relatif pendek yaitu antara 5-2000 unit. Lignin memberi kekuatan pada struktur tumbuh-tumbuhan, oleh karna itu merupakan bagian keras dari tumbuh-tumbuhan sehingga jarang dimakan. Lignin terdapat didalam tangkai sayuran, bagian inti di dalam wortel dan biji jambu biji. Lignin sesungguhnya bukan karbohidrat dan seharusnya tidak dimasukkan dalam serat makanan (Garrow dan James, 1993).
Pektin, gum, dan mukilase terdapat di sekeliling dan didalam sel tumbuh-tumbuhan. Ikatan-ikatan ini larur atau mengembang di dalam air sehingga membentuk gel. Oleh karna itu, di dalam industri pangan digunakan sebagai bahan pengental, emulsifier, dan stabilizer. Pektin merupakan polimer ramnosa dan asam galakturonat adalah turunan dari galaktosa. Pektin terdapat didalam sayur dan buah, terutama jenis sitrus, apel, jambu biji, anggur dan wortel. Senyawa pektin berfungsi sebagai bahan perekat antar dinding sel. Buah-buahan yang mempunyai kandungan pektin tinggi baik untuk dibuat jam atau jeli. Secara komersial pektin di ekstrasi dari apel dan kulit sitrus. Gum adalah polisakarida larut air terdiri atas 10.000-30.000 unit terutama terdiri atas glukosa, galaktosa, manosa, arabinosa, ramnosa dan asam uronat. Gum arabic adalah sari pohon akasia. Gum diekstrasi secara komersial dan digunakan dalam industri pangan sebagai pengental, emulsifier, dan stabilizer. Mukilase merupakan struktur kompleks yang mempunyai ciri khas yaitu memiliki komponen asam D-galakturonat. Mukilase terdapat di dalam biji-bijian dan akar yang fungsinya di duga mencegah pengeringan.
Beta-glukan terutama terdiri atas polimer glukosa bercabang yang terikat dalam bentuk beta (1-3) dan beta (1-9). Beta glukan terdapat di dalam serealia, terutama di dalam oat dan barley dan diduga berperan dalam menurunkan kadr kolesterol darah.

Pencernaan, Absorpsi, Ekskresi, dan Metabolisme
Tujuan akhir pencernaan dan absorpsi karbohidrat adalah mengubah karbohidrat menjadi ikatan-ikatan lebih kecil, terutama berupa glukosa dan fruktosa, sehingga dapat diserap oleh pembuluh darah melalui dinding usus halus. Karbohidrat yang tidak dicernakan memasuki usus besar untuk sebagian besar dikeluarkan dari tubuh.
Mulut
Pencernaan karbohidrat dimulai dimulut. Bolus makanan yang diperoleh setelah makanan dikunyah bercampue dengan ludah yang mengandung enzim amilase. Amilase menghidrolisis pati atau amilum menjadi karbohidrat lebih sedrhana yaitu dekstrin.
Usus Halus
Sebagian besar pencernaan karbohidrat terjadi didalamn usus halus. Enzim amilase yang dikeluarkan oleh pankreas, mencernakan pati menjadi dekstrin dan maltosa. Penyelesaian pencernaan karbohidrat dilakukan oleh enzim-enzim disakaridase yang dikeluarkan oleh  sel-sel mukosa usus halus berupa maltase, sukrase, dan laktase.
Usus Besar
Dalam waktu 1-4 jam setelah selesai makan, pati nonkarbohidrat  atau serat makanan dan sebagian kecil pati yang tidak dicernakan masuk ke dalam usus besar. Sisa0sisa pencernaan ini merupakan substrat potensial lain yang di fermentasi oleh mikroorganisme di dalam usus besar. Substrat potensial lain yang difermentasi adalah fruktosa, subitol dan monomer lain yang sudah dicernakan, laktosa pada mereka yang kekurangan laktase, serta rafinosa, stakiosa, verbaskosa, dan fruktan.
Ketidaktahanan terhadap Laktosa
Dalam keadaan normal, laktosa yang terdapat didalam susu dihidrolisis oleh enzim lactase yang terdapat di dalam mikrovili usus halus. Dengan demikian, laktosa dipecah dan diserap secara efisien. Kadar lactase di dalam tubuh paling tinggi pada waktu bayi dilahirkan, karena makanan utama bayi adalah susu/ASI. Dengan meningkatnya umur, kadar lactase biasanya menurun.
Kadang-kadang bayi dilahirkan dengan keadaan tubuh tidak mampi memproduksi lactase. Keadaan ini menyebabkan ketidaktahuan terhadap laktosa, suatu keadaan dimana tubuh tidak mampu memecah dan menyerap laktosa. Laktosa yang tidak dihidrolisis ini secara osmosis menarik air kedalam saluran pencernaan. Laktosa kemudian difermentasi oleh bakteri usus dan menghasilkan asam laktat, asam organic lain, karbon dioksida, dan gas hydrogen. Hal ini dapat berakibat kembung, flatus, kejang, dan diare. Penelitian menunjukkan kekurangan lactase lebih banyak terdapat pada manusia kulit berwarna (sawo matang dan hitam). Dalam hal ini terdapat tingkatan-tingkatan ketidahtahan terhadap laktosa. Ada yang sama sekali tidak tahan dan ada yang untuk sebagian tidak tahan. Golongan pertama sama sekali tidak tahan terhadap susu dalam bentuk apapun, baik dalam bentuk susu murni maupun sebagai campuran dalam kue-kue. Sedangkan golongan kedua dapat memproduksi produk susu dalam jumlah terbatas. Adapula yang secara berangsur  dapat meningkatkan ketahanannya terhadap laktosa tersebut. Sebagian besar mereka yang tidak tahan terhadap laktosa, tahan terhadap susu yang difermentasikan, seperti dadih, susu asam, yogurt dan keju. Bakteri yang terdapat didalam produk-produk ini dapat mencerna laktosa. Dipasar tersedia berbagai produk susu bayi yang tidak mengandung laktosa, yaitu produk yang dibuat dari kacang kedelai atau dari susu yang sudah dikeluarkan laktosanya.
Sekilas Metabolisme Karbohidrat
Peranan utama karbohidrat di dalam tubuh adalah menyediakan glukosa bagi sel-sel tubuh, yang kemudian diubah menjadi energy. Glukosa memegang peranan sentral dalam metabolisme karbohidrat. Jaringan tertentu hanya memperoleh energy dari karbohidrat seperti sel darah merah serta sebagian besar otak dan system saraf.
Menyimpan Glukosa dalam Bentuk
Salah satu fungsi utama hati adalah menyimpan dan mengeluarkan glukosa sesuai kebutuhan tubuh. Kelebihan glukosa akan disimpan didalam hati dalam bentuk glikogen. Bisa persedian glukosa menurun, hati akan mengubah sebagian dari glikogen menjadi glukosa dan mengeluarkannya ke dalam aliran darah. Glukosa ini akan dibawa oleh darah keseluruh bagian tubuh  yang mememrlukan, seperti otak, system saraf, jantung dan organ tubuh lain. Sel-sel otot dan sel-sel lain di samping glukosa menggunakan lemak sebagai sumber energy. Sel-sel otot juga menimpan glukosa dalam bentuk glikogen (sebanyak dua pertiga bagian). Glikogen ini hanya digunakan sebagai energy untuk keperluan oto saja dan tidak dapat dikembalikan sebagai glukosa ke dalam aliran darah.
Tubuh hanya dapat menyimpan glikogen dalam jumlah terbatas, yaitu untuk keperluan energy bebebrapa jam.
Penggunana Glukosa untuk Energi
Bila glukosa memasuki sel, enzim-enzim akan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil yang pada akhirnya akan menghasilkan energy, karbon dioksida dan air. Bagian-bagian kecil ini dapat pula disusun kembali menjadi lemak.
Agar tubuh selalu memperoleh glukosa untuk keperluan energy, hendaknya seseorang tiap hari memakan sumber karbohidrat pada selang waktu tertentu, karena persediaan glikogen hanya bertahan untuk keperluan beberapa jam. Apakah karbohidrat dan makanan dapat digantikan sebagai sumber enerfi oleh lemak dan  protein?
Protein dapat diubah menjadi glukosa melalui proses glukoneogenesis (sintesis glukosa dari rantai karbon non karbohidrat) dalam batas-batas tertentu, tetapi protein mempunyai fungsi lain yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain, seperti untuk pertumbuhan. Lemak tubuh tidak dapat diubah menjadi glukosa dalam jumlah berarti. Glukosa sebagai sumber energy untuk sel-sel otak, sel saraf lain dan sel sel darah merah tidak dapat digantikan oleh lemak. Jadi, makanan sehari-hari harus mengandung karbohidrat. Karbohidrat yang cukup akan mencegah penggunaan protein untuk energy (sebagai penghemat protein).
Perubahan Glukosa Menjadi Lemak
Kelebiahn karbohidrtat di dalam tubuh diubah menjadi lemak. Perubahan ini terjadi dalam hati. Lemak ini kemudian dibawa ke sel-sel lemak yang dapat menyimpan lemak dalam jumlah tidak terbatas.
Gula darah
Agar dapat berfungsi secara optimal, tubuh hendaknya dapat mempertahankan konsentrasi darah gula (dalam bentuk glukosa) dalam batas-batas tertentu, yaitu 70-120 mg/100 l dalam keadaan puasa. Bila gula darah naik diatas 170 mg/100 ml, darah akan dikeluarkan melalui urine. Bila sebaliknya gula darah turun hingga 40-50 mg/100 ml, kita akan merasa gugup, pusing lemas dan lapar. Gula darah terlalu tinggi disebut hiperglikemia dan bila terlalu rendah disebut hipoglikemia. Beberapa macam hormone terlibat dalam pengaturan gula darah ini.’
Hormone insulin  yang diproduksi oleh sel-sel beta pulau Langerhans pancreas menurunkan gula darah. Mekanisme penurunan gula darah oleh insulin, meliputi peningkatan laju penggunaan glukosa melalui oksidasi, glikogenesis (perubahan glukosa menjadi glikogen) dan lipogenesis (perubahan glukosa menjadi lemak). Difusi fasilitatif glukosa kedalam sel-sel otot dan sel-sel lemak meningkat, glukosa disimpan dalam hati dan otot-otot dalam bentuk glikogen, serta pengambilan glukosa  untuk diubah menjadi lemak oleh sel-sel lemak dan hati meningkat. Pengeluaran insulin dirangsang oleh hormone glucagon dan hormone-hormon saluran cerna.
Glucagon  yang diproduksi oleh sel-sel alfa pulau-pulau Langerhans mempunyai pengaruh kebalikan dari insulin. Glucagon meningkatkan gula darah melalui peningkatan glikogenolisis (perubahan glikogen menjadi glukosa) dan glukoneogenesis. Insulin dan glucagon adalah antagonis dan pengaruh yang berlawanan inilah yang untuk sebagian menjaga keseimbangan metabolism karbohidrat. Epinefrin, hormon yang dikeluarkan oleh medulla kelenjar adrenal mempengaruhi pemecahan glikogen dalam hati dan otot menjadi glukosa (glukogenolisis) dan menurunkan pengeluaran insulin dari penkreas. Dengan demikian, epinefrin meningkatkan gula darah. Sekresi epinefrin meningkat bila marah dan ketakutan; pembentukan glukosa yang menyusul mengeluarkan energy ekstra untuk menghadapi krisis.
Glukokortikoid hormone steroid yang diproduksi oleh adrenal, mempengaruhi gula darah dengan merangsang glukogeogenesis. Hormone ini mempengaruhi penggunaan glukosa dan meningkatkan laju perubahan protein menjadi glukosa, dengan demikian berlawanan dengan pekerjaan insulin.
Bila gula darah turun secara mencolok, produksi hormone tiroksin akan meningkat. Glikogenolisis dan glukoneogenesis dalam hati meningkat sehingga gula darah naik. Tiroksin juga meningkatkan laju absopsi heksosa dari usus halus.
Hormone pertumbuhan, dikeluarkan oleh kelenjar pituitary anterior juga meningkatkan gula darah dengan cara meningkatkan pengambilan asam amino dan sintesis protein oleh semua sel, menurunkan pengambilan glukosa oleh sel dan meningkatkan mobilisasi lemak untuk energy.
Kegagalan dalampengaturan gula darah terjadi karena terganggunya system pengaturan gula darah tubuh, seperti pada penyakit diabetes mellitus.

Fungsi
Sumber Energi
Fungsi utama karbohidrat adalah menyediakan energy bagi tubuh. Karbohidrat merupakan sumber utama energy bagi penduduk diseluruh dunia, karena banyak didapat dialam dan harganya relative murah. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4 kalori. Sebagian karbohidrat didalam tubuh berada dalam sirkulasi darah sebagai glukosa untuk keperluan energy segera; sebagian disimpan sebagai glikogen dalam hati dan jaringan otot, dan sebagian diubah menjadi lemak. Seorang yang memakan karbohidrat dalam jumlah berlebihan akan menjadi gemuk. System saraf sentral dan otak sama sekali tergantung pada glukosa untuk keperluan energinya
Pemberi Rasa Manis pada Makanan
Karbohidrat member rasa manis pada makanan, khususnya mono dan disakarida. Sejak lahir manusia menyukai rasa manis. Alar kecapan pada ujung lidah merasakan rasa manis tersebut. Gula tidak mempunyai rasa manis yang sama. Fruktosa adalah gula paling manis. Bila tingkat kemanisan sakarosa diberi nilai 1, maka tingkat kemanisann fruktosa adalah 1,7; glukosa 0,7; malrosa 0,4; dan laktosa 0,2.

Penghemat Protein
Bila karbohidrat makanan tidak mencukupi, maka protein akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energy, dengan mengalahkan fungsi utamanya sebagai zat pembangun. Sebaliknya, bila karbohidrat makanan mencukupi, protein terutama akan digunakan sebagai zat pembangun.

Pengatur Metabolisme Lemak
Karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang tidak sempurna, sehingga menhasilkan bahan-bahan keton berupa asam asetoasetat, aseton, dan asam beta-hidroksi-butirat. Bahan-bahan ini dibentuk dalam hati dan dikeluarkan melalui urine dengan mengikat basa berupa ion natrium. Hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbanga natrium dan dehidrasi. pH cairan tubuh menurun. Keadaan ini menimbulkan ketosis atau asidosis yang dapat merugikan tubuh. Dibutuhkan antara 50-100 gram karbohidrat sehari untuk mencegah kerosis.

Membantu Mengeluarkan Feses
Karbohidrat membantu pengeluaran feses dengan cara mengatur peristaltic usus dan member bentuk pada feses. Selulosa dalam serat makanan mengatur peristaltic usus, sedangkan hemiselulosa dan pectin mempu menyerap banyak air dalam usus besar sehingga member bentuk pada sisa makanan yang dikeluarkan.
Serat makanan mencegah kegemukan, konstipasi, hemeroid, penyakit-penyakit divertikulosis, kanker usus berat, penyakit diabetes mellitus dan jantung koroner yang berkaitan dengan kadar kolesterol darah tinggi.
Laktosa dalam susu membantu absorpsi kalsium. Laktosa lebih lama tinggal didalam saluran cerna, sehingga menyebabkan pertumbuhan bakteri yang menguntungkan. Bakteri tertentu diduga mensitensis vitamin-vitamin tertentu dalam usus besar. Asam glukoronat turunan glukosa, didalam hati mengikat toksin-toksin dan bakteri dan mengubahnya menjadi bentuk-bentuk yang dapat dikeluarkan dari tubuh.
Gula ribose yang mengandung lima atom karbon merupakan bagian dari ikatan DNA dan RNA.

Kebutuhan Sehari
Bila tidak ada karbohidrat, asam amino dan gliserol yang berasal dari lemak dapat diubah menjadi glukosa untuk keperluan energy otak dan system saraf pusat. Oleh sebab itu, tidak ada ketentuan tentang kebutuhan karbohidrat sehari untuk manusia. Untuk memelihara kesehatan, WHO (1990) menganjurkan agar 50-65% konsumsi energy total berasal dari karbohidrat kompleks dan paling banyak hanya 10% berasal dari gula sederhana. Seperti telah dijelaskan didepan bahwa, rata-rata konsumsi energy berasal dari karbohidrat penduduk Indonesia menurut Biro Pusat Statistik tahun 1990 adalah sebesar 72%.
Demikian pula tidak ada anjuran kebutuhan seharis ecara khusus untuk serat makanan. Lembaga Kanker Amerika menganjurkan makan 20-30 gram serat sehari. Di Indonesia pada saat ini tidak ada kekhawatiran kekurangan makan serat, bila dipertahankan pola makanan yang ada dengan makan makanan pokok, kacang-kacangan, sayuran dan buah-buahan dalam jumlah yang cukup.

Sumber
Sumber karbohidrat adalah padi-padian atau serelia, umbi-umbian, kacang-kacang kering, dan gula. Hasil olah bahan-bahan ini adalah bihun, mie, roti, tepung-tepungan, selai sirup dan sebagainya. Sebagian besar sayur dan buah tidak dapat mengandung karbohidrat. Sayur umbi-umbian, seperti wortel dan bit serta sayur kacang-kacangan relative lebih banyak mengandung karbohidrat daripada sayur daun-daunan. Bahan makanan hewani seperti daging, ayam, ikan, telur, dan susu sedikit lebih mangandungkarbohidrat. Sumber karbohidrat yang banyak dimakan sebagai makanan pokok di Indonesia adalah beras, jagung, ubi, singkong, talas dan sagu. Kandungan karbohidrat beberapa bahan makanan dapat dilihat pada tabel 3.1.

Kandungan Serat Bahan Makanan
Daftar komposisi bahan makanan di Indonesia belum memuat kandungan serat bahan makanan. Daftar makanan luar negeri memuat angka-angka berbeda untuk bahan makanan yang sama. Ini disebabkan karena belum ada kesepakatan tentang definisi serat makanan dalam teknik analisis yang digunakan.
Pengaruh Faali Kerbohidrat Makanan yang tidak Dicerna Usus Halus
Pada tahun 1940-an, Burkitt dan Trowerl memperhatikan bahwa penduduk asli di Afrika mempunyai penyakit sangat berbeda dari penduduk kulit putih dan penduduk Eropa. Penduduk asli jarang menderita penyakit peradaban seperti konstipasi, apendisitism diverticulitis, hemoroid, diabeten mellitus, kanker kolon, penyakit jantung koroner dan batu ginjal. Mereka menghubungkannya dengan buang air besar yang lunak dan lebih banyak serta lebih sering dan lancer keluar yang tampaknya merupakan akibat dari makanan tinggi serat. Kekurangan serat makanan dihubungkan pula dengan berbagai penyakit gastrointestinal.
Berat Feses
Makanan yang rendah serat menghasilkan feses yang keras dan kering yang susah dikeluarkan dan membutuhkan peningkatan tekanan saluran cerna yang luar biasa untuk mengeluarkannya. Makanan tinggi serat cenderung meningkatkan berat feses, emnurunkan waktu transit didalam saluran cerna dan dapat mengontrol metabolisme glukosa dan lipida. Jenis dan jumlah serat makanan menentukan pengaruh ini.
Serat larut-air mudah difermentasi, sehingga pertumbuhan dan perkembangan bekteri kolon menyebabkan bertambahnya berat feses. Gas yang terbentuk selama fermentasi membantu gerakan sisa makanan melalui kolon. Serat tidak-larut-air, terutama lignin yang terdapat dalam dedak gandum pada umumnya tidak mengalami proses fermentasi. Serat ini paling banyak mengalami peningkatan berat karena lebih banyak menyerap air, sehingga mempunyai pengaruh laksatif paling besar.
Feses yang sedikit dank eras dihubungkan dengan obstipasi atau sukar kebelakan. Tekanan yang diperlukan untuk mendesak feses ke luar akan menimbulkan kantung-kantung kecil pada dinding usus besar yang dinamakan divertikula. Bila kantung-kantung ini terisi oleh sisa-sisa makanan, kuman-kuman dapat mengubahnya menjadi asam dan gas yang kemudian dapat menimbulkan infeksi pada kantung-kantung tersebut. Ini dinamakan diverticulitis.
Metabolisme Kolesterol         
Data epidemologik menunjukkan bahwa konsumsi serat makanan mempunyai hubungan negative dengan insiden penyakit jantung koroner dan batu ginjal, terutama dengan kolesterol darah. Polisakarida nonpati larut air (pectin, gum dan sebagainya) paling berpengaruh sedangkan polisakarida nonpati yang tidak larut air hanya mempunyai pengauh kecil terhadap kadar kolesterol. Penurunan ini terutama terlihat pada fraksi LDL (Low Density Lipoprotein) yang disertai dengan penurunan kandungan kolesterol dalam hati dan lain jaringan.
Pengaruh ini dikaitkan dengan metabolism asam empedu. Asam empedu dan steroid netral disintesis dalam hati dari koloesterol, disekresi kedalam empedu dan biasanya kembali ke hati melalui reabsorpsi dalam usus halus (siklus entero hepatic). Serat makanan diduga menghalangi siklus ini dengan menyerap asama empedu sehingga perlu diganti dengan asam empedu baru dari kolesterol persediaan. Penurunan kolesterol diduga terjadi melalui proses ini.
Penelitian in vitro dan in vivo kemudian menunjukkan bahwa beberapa jenis serat, seperti yang terdapat dalam dedak, yang mengabsorpsi asam empedu tidak menurunkan kolesterol darah, sedangkan yang terdapat dalam kacang-kacangan menurunkan kolesterol darah tanpa mengabsorpsi asam empedu. Jelas nampak bahwa peningkatan asam empedu bukan merupakan faktor satu-satunya yang menyebabkan turunnya kolesterol darah.
Chien dan Anderson (1984) menduga bahwa sintesis kolesterol dalam hati mungkin berubah oleh asam lemak rantai pendek yang diperoleh dari hasil fermentasi serat larut-air. Jadi mekanisme lengkap pengaruh serat terhadap kolesterol darah hingga sekarang belum diketahui dengan pasti.
Pengaruh terhadap pengakit diabetes mellitus diduga disebabkan oleh serat larut air, terutama pectin dan gum, yang mempunyai pengaruh hipoglikemik karena memperlambat pengosongan lambung, memperpendek waktu transit dalam saluran cerna dan mengurangi absorpsi glukosa. Mungkin pula serat memperlambat hidrolisis pati.
Waktu Transit
Waktu transit makanan setelah ditelan adalah waktu yang diperlukan makanan untuk melalui mulut hingga ke anus. Waktu transit dalamm kolon biasanya kurang lebih sepuluh kali lebih lama daripada waktu transit dari mulut ke awal kolon dan merupakan tahap utama yang mempengaruhi seluruh waktu transit makanan. Waktu transit dari mulut ke bagian awal usus besar dipengaruhi oleh pengosongan lambung dan transit dalam usus halus. Kedua tahap ini mungkin dipengaruhi oleh viskositas polisakarida. Viskositas polisakarida yang tinggi seperti yang terdapat dalam gum dan dedak serelalia memperlambat pengosongan lambung, yang menimbulkan rasa kenyang lebih besar dan keterlambatan penyampaian zat-zat gizi keusus halus. Serat-serat ini juga memperlambat absorpsi zat gizi dengan berat molekul rendah seperti gula, terutama dibagian bawah usus halus di mana viskositas meningkat karena absorpsi air dari usus.
Waktu transit dalam kolon tidak banyak dipengaruhi viskositas polisakarida yang cepat turun bila fermentasi terjadi. Serat tidak larut-air menurunkan waktu transit dalam kolon dan menghasilkan feses lebih lembek dan lebih banyak.
Bagaimana mekanisme pengaruh serat makanan terhadap waktu transit didalam kolon belum diketahui dengan pasti. Diduga ada berbagai faktor yang menyebabkan, termasuk retensi air oleh serat, kehadiran asam lemak rantai pendek yang tidak diserap seperti asam laktat atau pH yang rendah yang menghambat absorpsi gum dan air, peningkatan jumlah bakteri dan mengenbangnya kolon karena produksi gas.
Perubahan Susunan Mikoorganisme
Hubungan kanker kolon dengan kekurangan serat makanan diduga karena terjadinya perubahan pada susunan mikoorganisme dalam saluran cerna. Mikroorganisme yang terbentuk menguntungkan pembetukan karsinogen yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker. Mikroorganisme ini juga diduga mencegah atau membatasi pemecahan karsinogen yang terjadi sevara normal bila serat makanan lebih tinggi. Teori lain mengatakan bahwa serat makanan mempercepat waktu transit makanan dalam saluran cerna, sehingga karsinogen mempunyai kesempatan bersentuhan dengan dinding kolon untuk waktu yang pendek. Disamping itu gumpalan besar feses dan air yang dikandungnya mengencerkan karsinogen ketingkat yang sifatnya tidak toksik.

Pemanis Buatan
Pemanis buatan dipergunakan untuk member rasa manis pada makanan. Pemanis buatan ini tidak menghasilkan energy, oleh karena itu digunakan oleh mereka yang membatasi gulanya atau oleh pasien diabetes mellitus. Tetapi, karena harganya lebih murah dari gula, sering digunakan oleh pedagang dalam produk-produknya. Pemanis buatan yang banyak digunakan di Indonesia adalah sakarin, klimat, dan aspartame. Daya kemanisan sakarin adalah lima ratus kali manis gula sakarosa. Penggunaanya banyak menimbulkan perbedaan pendapat dimasyarakat. Penelitian dengan binatang percobaan menunjukkan bahwa zat-zat pemanis tertentu merupakan bahan karsinogenik yang dapat menimbulkan kanker. Penelitian lanjut menunjukkan bahwa belum ada bukti-bukti yang pasti. Pada umumnya percobaan-percobaan dilakukan dengan dosis sangat tinggi yang tidak mungkin dikonsumsi di Indonesia.
Sakarin berupa Ca- atau Na-sakarin merupakan pemanis buatan yang paling lama dikenal. Sakarin merupakan senyawa benzosulfimida atau o-sulfobenzimida dengan rumus molekul C7H5NO3S (lihat Gambar 3.6). tingkat kemanisannya adalah lima ratus kali semanis sakarosa.
Na-sakarin diserap kedalam tubuh dan tidak mengalami metabolisme sehingga dikeluarkan melalui urine tanpa perubahan. Rasa pahit yang menyertai sakarin disebabkan oleh ketidakmurnian bahan. Sakarin tidak stabil bila dipanaskan. Hal ini merupakan kekurangan sakarin sebagai bahan pemanis.
Peraturan Menteri Kesehatan RI tahun 1988 menyatakan bahwa pada makanan dan minuman olahan berkalori rendah dapat digunakan sakarin sebanyak 50-300 mg;kg.
Siklamat diperkenalkan kedalam makanan dan minuman pada awal tahun 1950-an. Daya kemanisannya adalah delapan puluh kali kemanisan sukrosa. Siklamat biasa dipakai dalam bentuk garam natrium dan asam siklamat (lihat Gambar 3.7).
Penggunaan siklamat sebagai bahan pemanis banyak dilakukan di Indonesia. Selain untuk makanan/minuman khusus rendah kalori, digunakan luas oleh pedagang jajanan dalam berbagai jenis es, sirup, limun dan minuman ringan lain serta manisan. Peraturan Menteri Kesehatan RI (1988) memperbolehkan penggunaan siklamat untuk makanan dan minuman berkalori rendah sebanyak 500 mg- 3 g/kg. menurut WHO batas konsumsi harian siklamat yang aman (ADI) adalah 11 mg/kg berat badan.
Aspartame ditemukan pada tahun 1965 secara kebetulan. Aspartame adalah senyawa metilester dipeptida yaitu L-fenil-alamin-metil ester yang mempunyai daya kemanisan kurang lebih dua ratus kali kemanisan sakarosa. Struktur kimianya dapat dilihat pada Gambar 3.8
Menteri kesehatan belum menetapkan batas penggunaan aspartame yang diizinkan untuk digunakan dalam makanan. WHO menetapkan konsumsi yang aman (ADI) sebanyak 40 mg/kg berat badan. Tingkat kemanisan gula dan pemanis buatan dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Skema. 2 Perubahan karbohidrat di dalam tubuh
Disini zat antara itu diubah menjadi glikogen, mengisi kembali cadangan glikogen yang telah dipergunakan untuk meningkatkan kadar gula darah. Peristiwa oksidasi glukosa di dalam jaringan-jaringan terjadi secara bertahap dan pada tahap-tahap itulah enersi dilepaskan sedikit demi sedikit, untuk dapat digunakan selanjutnya.
Melalui suatu deretan proses-proses kimiawi, glukosa dan glikogen diubah menjadi asam pyruvat. Asam pyruvat ini merupakan zat antara yang sangat penting dalam metabolisme karbohidrat. Asam pyruvat dapat segera diolah lebih lanjut dalam suatu proses pada "lingkaran Krebs". Dalam proses siklis ini dihasilkan CO2 dan H2O dan terlepas enersi dalam bentuk persenyawaan yang mengandung tenaga
kimia yang besar yaitu ATP (Adenosin Triphosphate). ATP ini mudah sekali melepaskan enersinya sambi}berubah menjadi ADP (Adenosin Diphos phate). Sebagian dari asam piruvat dapat diubah menjadi "asam laktat". Asam laktat ini dapat keluar dari sel-sel jaringan dan memasuki aliran darah menuju ke hepar.
Di dalam hepar asam laktat diubah kembali menjadi asam pyruvat dan selanjutnya menjadi glikogen, dengan demikian akan menghasilkan enersi.
Hal ini hanya terdapat di dalam hepar, tidak dapat berlangsung di dalam otot, meskipun di dalam otot terdapat juga glikogen. Sumber glikogen hanya berasal dari glukosa dalam darah. Metabolisme karbohidrat selain di pengaruhi oleh enzim-enzim, juga diatur oleh hormon-hormon tertentu. Hormon Insulin yang dihasilkan oleh "pulau-pulau Langerhans" dalam pankreas sangat memegang perananan penting. Insulin akan mempercepat oksidasi glukosa di dalam jaringan, merangsang perubahan glukosa menjadi glikogen di dalam sel-sel hepar maupun otot. Hal ini terjadi apabila kadar glukosa di dalam darah meninggi. Sebaliknya apabila kadar glukosa darah menurun, glikogen hati dimobilisasikan sehingga kadar glukosa darah akan menaik kembali. Insulin juga merangsang glukoneogenesis, yaitumengubah lemak atau protein menjadi glukosa.
Juga beberapa horrnon yang dihasilkan oleh hypophysis dan kelenjar suprarenal merupakan pengatur-pengatur penting dari metabolisme karbohidrat.
Enzim sangat diperlukan pada proses-proses kimiawi metabolisme zat-zat makanan. vitamin-vitamin sebagian dari enzim, secara tidak langsung berpengaruh pada metabolisme karbohidrat ini. Tiamin (vitamin B1) diperlukan dalam proses dekarboksilase karbohidrat. Kekurangan vitamin B1 akan menyebabkan terhambatnya enzim-enzim dekarboksilase, sehingga asam piruvat dan asam laktat tertimbun di dalam tubuh. Penyakit yang ditimbulkan akibat defisiensi vitamin B1 itu dikenal sebagai penyakit beri-beri.

Defisiensi karbohidrat
Manusia membutuhkan karbohidrat dalam jumlah tertentu setiap harinya. Walaupun tubuh tidak membutuhkan dalam jumlah yang khusus, kekurangan karbohidrat yang sangat parah akan menimbulkan masalah. Diperlukan sekitar 2 gram karbohidrat per Kg berat badan sehari untuk mencegah terjadinya ketosis.
Secara keseluruhan tubuh harus mempertahankan keseimbangan tertentu dalam utilisasi karbohidrat, lemak dan protein sebagai sumber enersi.
Jika asupan karbohidrat ditiadakan, maka cadangan lemak dalam jaringan adiposa akan dimobilisasi sedemikian cepatnya, sehingga tubuh tidak dapat mengoksidasi karbohidrat seluruhnya menjadi CO2 dan H2O. Sebagian dari hasil pemecahan lemak itu akan diubah menjadi substansi yang disebut dengan keton bodies. Walaupun tubuh dapat menggunakan keton bodies ini sebagai penghasil enersi dan dieksresikan melalui urine, produksi dalam jumlah besar akan teljadi penumpukan keton bodies di dalam darah dan mengakibatkan terjadinya ketosis.
Hal ini sangat berbahaya dan dapat terjadi pada penderita Diabetes Mellitus yang tidak terkontrol. Jumlah asupan karbohidrat juga mempengaruhi penggunaan protein sebagai penghasil enersi. Jika asupan karbohidrat rendah, tubuh akan memecah asam amino untuk menghasilkan enersi dan mensintesa glukosa tubuh, sehingga jaringan yang membutuhkan gula ini akan mampu menjalankan fungsinya. Oleh karena sebagian protein tubuh digunakan untuk tujuan ini, maka sedikit karbohidrat dapat menyebabkan pemecahan dari jaringan otot untuk menghasilkan enersi.
Gejala yang timbul akibat asupan karbohidrat yang rendah adalah fatique, dehidrasi, mual, nafsu makan berkurang, dan tekanan darah kadang-kadang turun dengan mendadak sewaktu bangkit dari posisi berbaring (hipotensi ortostatik).
Asupan karbohidrat yang adekwat, penting untuk mempertahankan cadangan glikogen yang dibutuhkan pada aktifitas fisik jangka panjang. Peningkatan glikogen otot dengan adanya proses penumpukan karbohidrat akan menambah stamina 30-60 menit lebih lama.






















DAFTAR PUSTAKA
1. Sreeranjit,C. V. K. and Lal, J. J., “Glucose : Properties and Analysis,” In Encyclopedia Of Food Science,
Food Technology & Nutrition, Academic Press, 1993,pp.2898-2903.
2 .Rocha Leao, M. H. M., “Glycogen,” In Encyclopedia Of Food Science, Food Technology & Nutrition,
Academic Press, 1993,pp.2930-2936.
3. Dennis, S. C. and Noakes, T. D., “Exercise : Muscle,” In Encyclopedia Of Food Science, Food Technology &
Nutrition, Academic Press, 1993,pp.4005-4012.
4. Tester, R. F. and Karkalas, J,. “Carbohydrates : Classification and Properties,” In Encyclopedia Of Food
Science, Food Technology & Nutrition, Academic Press, 1993,pp.862-874.
5. Mac donald, I., “Carbohydrates : Requirement and Dietary Importance,” In Encyclopedia Of Food
Science, Food Technology & Nutrition, Academic Press, 1993,pp.887-889.
6. Mac donald, I., “Carbohydrates : Metabolism of Sugar,” In Encyclopedia Of Food Science,
Food Technology & Nutrition, Academic Press, 1993,pp.889-891.
7. Schieberle, P., Grosc W. And Belitz,H.D. Food Chemistry, 3d ed Springer, Garching, 2004.
8. Almatsier, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Gramedia, Jakarta, 2003.
9. Slavin, J.L.. Sports nutrition. Food Safety Handbook, Schmidt RH, Rodrick GE, eds, Wiley, pp 627-640.
2003
10. Benardot, D. Advanced Sports Nutrition, Human Kinetics, 2006.
11. www.extension.iastate.edu
12. www.nutrition.org
13. www.fao.org